Memori Capi “DIA HARUS TAHU'


                                                 SEMUA DI MASA LALU



Setiap kebohongan yang udah gue jalani selalu ada alasan untuk menghindar. Jeni yang hanya melihat kebohongan gue selalu ada rasa percaya dari kata-kata ini. Sambil sekali-kali melihat buku yang ingin dicarinya, tatapan jeni semakin jelas akan penasaran di diri gue. Canda tawa yang bisa gue buat, hanya kelucuan sesaat agar penasaran jeni hilang. Setalah jeni telah menetukan pilihan buku yang diinginkannya, gue berlanjut buat antar jeni kerumahnya.
Sekarang hidup gue penuh kebingungan, hubungan yang dulu berawal dari kedekatan, sekarang menjadi cinta yang terbagikan. Seperti biasa hubungan gue dan jeni berjalan terus, kata-kata tinggalin jeni itu berat buat untuk diungkapkan. Takut ini jadi kesedihan buat hidupnya, kekecewaan untuk ke dua kalinya bagi jeni.

Empat bulan kebohongan besar itu udah gue jalanin dengan pergantian tahun 2012 rasa untuk menghindar dari kenyataan ini sangat berat bagi gue. Di suatu sisi gue cinta sama rita, di suatu sisi jeni selingkuhan gue mungkin gak rela untuk ditinggal seperti itu aja.
Gue sadar kebohongan itu bagai aib dihidup, jika semakin di simpan aib itu semakin besar juga kesalahan nantinya bila ketahuan. Selalu mencoba menutupi kesalahan yang gue lakukan, membuat hidup ini semakin berat untuk dijalani. Gue hanya berpikir putar hidup seperti 180o, gue nyakinin diri gue buat lebih memperhatikan rita tanpa terlalu mempedulikan jeni lagi.
Siang hari yang biasa gue habiskan waktu di kampus, membuat hari ini semakin malas untuk keluar dari kontrakan. Ditemanin tontonan di layar tv menjadikan  diri gue sedikit bisa melupakan permasalahan cinta ini. Dengan menikmati kelucuan yang disiarkan, tawa gue seakan lepas.
Pikiran gue yang udah bisa sedikit melupakan permasalahan, harus kembali dikacaukan dengan nada panggilan telpon. Gue lihat jeni yang menelpon, niat yang emang ingin menjauh memberhentikan tangan untuk mengangkatnya. Berapa kali jeni terus hubungin tetap terus gue abaikan, hingga nada panggilan berubah jadi nada pesan masuk hadpone gue.
Tit titit tititit
Gue baca satu pesan dari jeni, ‘Sayang kenapa gak diangkat’ sengaja lagi gue abaikan lagi.
Kurangnya rasa perhatian gue tiap harinya membuat jeni juga kurang perhatian lagi ke gue. Mungkin bagi gue ini satu langkah untuk menjauh dari hidup jeni, membuat jeni bosan dengan sikap gue dan mulai meminta untuk tinggalin dia.
Seperti biasa pikiran gue yang selalu mengingat permasalahan ini di ruangan kamar kecil kontrakan, terhenti sejenak oleh nada hadpone berbunyi. Pesan masuk yang gue baca dari jeni,
Tit titit tititit
“Sayang hari ini kita bisa ketemu gak, ada hal yang penting mau di bicarakan”
Sambil membaca pesan masuk yang dikirim jeni membuat gue berpikir lagi akan ada permasalah baru, mungkin jeni udah jenuh karna gue yang jarang menanggapi telpon bahkan pesan masuk yang dikirim ke hadpone. Kata-kata penting yang dikirim jeni, sangat meminta gue untuk menemuinya.
Jemari gue sebenarya ada rasa ragu untuk membalas, tapi pikiran gue hanya berharap hal yang penting itu akan menjadi akhir dari hubungan gue dan jeni. Gue balas pesan masuk dengan mengetik berapa kata.
“Iya, jam berapa dan dimana?”
Tit titit tititit
“Gak usah jemput adik ya, di cafe tetris jam tujuh malam ya sayang”begitu cepat balasan pesan masuk yang baru gue kirim ke jeni
”Ya deh kalau gitu”
Masih memiliki waktu lama untuk mempersiakan diri gue ketemu dengan jeni, yang katanya membahas masalah penting. Sembari gue menunggu jam tujuh malam, gue berbaring gelisah memikirkan apa yang akan terjadi. Kalau hari ini penting buat jeni, berarti gak salah nantinya gue jujur tentang hubungan gue dengan rita. Permasalahan yang gue ciptakan sendiri menjadi permainan cinta yang jahat.
Waktu itu gak terasa kalau gak ditunggu, gue harus siap-siap, sambil perhatikan jam tangan gue sudah menunjukan setengah tujuh malam. Gue berjalan kekamar mandi sambil memasuhkan muka dan kembali kekamar menganti baju memakai parfum agar bauk badan gue tetap wangi walau gak mandi. Masih dengan raut wajah gue yang kusut, gue mulai menghidupkan motor dan menuju tempat pertemuan gue dengan jeni.
Setiba di cafe terus memakirkan motor dan memperhatikan tempat, gue lihat sekeliling meja pengunjung apakah jeni sudah sampai. Sial bagi gue, terlalu cepat buat datang,  jam yang belum menunjukan jam tujuh. Sambil menunggu jeni, gue pesan tempat duduk dan memesan minuman, sekali-kali asap rokok keluar dari bibir gue.
Tit titit tititit
“Sayang, adik sudah sampi cafe, sayang dimana?” pesan masuk jeni ke hadpone gue.
“Sudah di dalam cafe, di meja no 19”
Setujek itu lah gue membalas pesan jeni
Ya gue lihat jeni berjalan dengan paras cantiknya mendekati gue, senyum  yang biasa terpacarkan begitu indah terlihat hilang. Sambil mendekati, dia duduk di depan gue.
“Sudah lama ya sayang”ucap jeni yang melihat gue
“Gak juga, baru kok, oh ya mau pesan apa?”sambil memengang kepala gue meperhatikan jeni dan bertanya dalam hati apa hal penting yang ingin dibicarakan jeni.
“Sayang pesan apa, samain aja”ucap jeni ke gue, kelihatan ingin menghibur suasana malam itu.
“Ya udah, tunggu kakak panggil pelayanannya”
Gue berdiri dari tempat duduk bergegas berjalan menuju tempat pemasanan dan kembali lagi berjalan  menuju meja yang telah di gue tepati.
“Malam ini mau berbicara apa, penting gimana?” ucap gue dengan hembusan asap rokok dan masih penasaran dengan pesan masuk jeni sebelumnya.
“Nanti aja ceritanya, habis makan ya” tutur jeni ke gue memperlihatkan terus senyum yang jelas dipaksakan terlihat dari bibirnya.
“Ya deh, perasaan ada yang aneh, matanya kelihatan bekak” ucapan gue ke jeni sambil memperhatikan ada perbedaan yang membuat diri gue harus pertanyakan
“Gak apa sayang, cuma kebanyakan jarang tidur aja”
Pesanan malam itu pun datang dan membuat orbrolan itu berhenti sejenak. Suasana malam yang semakin larut membuat diri gue tersimpan begitu banyak pertanyaan, ada apa sebenarnya malam ini. Sambil menikmati pesanan makanan yang sama dengan jeni, sekali-kali mata gue melihat kepala jeni yang berputar melihat arah luar cafe.
 Hingga saat selesai makanpun pertanyaan itu semakin menumpuk di otak gue. Suara jeni yang tiba-tiba memberhentikan sejenak kensunyian.
“Sayang kalau adik berkata lagi tentang masa lalu dengan mantan kekasih adik, sayang marah gak?”ucap jeni ke gue, sembari bibir mungil itu masih perlihatkan keterpaksaan untuk menahan sesuatu hal yang sangat besar.
“Kenapa harus marah, cerita aja ada apa, mantan adik ngajak balikan ya” ucap gue ke jeni, yang menghilang kata panggilan sayang, karna gue memang mau melepaskan dia dari hidup gue.
“Bukan itu sayang, adik salah selama ini tentang apa yang adik ceritakan tentang mantan pacar adik” ucap jeni ke gue dengan terlihat mata jeni yang sembab mulai berair saat tatapan itu jelas ke mata gue.
“Kok nangis, ada apa sebenarnya, langsung ke inti aja?” ucapan gue yang semakin penasaran dan gak bisa melihat jeni meneteskan air matanya dengan apa yang diceritakan, membuat gue berpikir lagi untuk tidak menceritakan hubungan dengan rita.
“Ya kata-kata adik dulu yang pernah ceritakan ke sayang, semuanya salah”kata-kata jeni ke gue ditemanin tetesan air mata berlinang mengalir di sela pipi jeni
“Ya kakak tau salah, adik jangan nangis, cerita yang jelas, salahnya mantan adik dimana” Rasa penasaran  yang semakin besar di diri gue hanya bisa membiarkan tetesan air mata jeni terjatuh tanpa mempedulikan air mata itu untuk di hapuskan.
“Mantan adik itu sebenarnya gak ninggalin adik sayang, dia malah ingin bahagiakan adik dihari ulang tahun adik, disaat dia mau memberikan kado ulang tahun adik, dia kecelakaan.”
Tangisan mata jeni yang gak mau berhenti membuat rasa dihati gue semakin kasihan apa lagi dengan ceritanya.
“Terus apa lagi adik, aduh jangan nangis dong ceritanya” ucapan gue ke jeni berusaha meminta untuk dia tidak menangis, karena ini ke dua kalinya di depan gue jeni menangis karna mantan.
“Semenjak kecelakaan itu dia koma sayang, dia bukan menjauh dan ninggalin adik untuk putus”ucapan jeni ke gue dengan tangisan yang mulai lebih dalam lagi, terisak-isak kesedihan jeni untuk mencoba mengucapkan tiap kata-kata.
“Terus sekarang dia gimana adik, aduh kakak gak ngerti neh”
Pikiran gue sudah kacau balau saat itu, belum lagi gue harus pikiran untuk putus dengan jeni, malah cerita ini semakin meluluhkan hati gue.
“Ya sayang, tapi sayang jangan marah kalau adik jujur, adik mohon”
Suasana haru bagi gue dan pengunjung cafe melihat tangisan jeni yang semakin menjadi.
“Ya gak marah, jujur aja?’
“Mantan pacar adik itu ada disini, dia yang nyuruh adik berbicara ke sayang”
“Hah, dimana?”sumpah gue terkejut dan kaget dengan peyataan jeni.
“Dimobil, pakiran depan dengan mamanya?”
“Kenapa gak di ajak kedalam aja”semakin penarasan tiap ucapan gue ke jeni dengan maksud jeni malam ini berbicara tentang masa lalunya.
“Sayang gak marahkan, Mamanya gak boleh sayang”
“Gak marah, jadi tujuan kesini ada apa sebenarnya adik, cuma menyampaikan itu aja ya”
Belum sempat gue menyeselesaikan pembicaraan gue, bibir kecil jeni mendarat di kening gue, seperti hal yang pernah gue rasakan dulu ke jeni.
“Sayang, hubungan kita berakhir disini ya, adik sayang kakak, tapi adik juga sayang mantan adik, sayang pasti dewasakan nerimanya”air mata itu mulai berhenti dari bola mata jeni.
“Maksud adik putus ya” gue yang gak punya rasa apa-apa ke jeni harus larut dalam kesedihan.
Jeni berdiri berjalan mendekati kursi sebelah gue, memeluk dengan eratnya menempelkan ciuman itu lagi kekening gue mengucap kata yang sebenarnya memang gue inginkan sebelum ada kata putus malam ini
“Ya sayang, putus” semakin kecang pelukan itu, mengingat gue saat pertama kali berjalan tanpa ada rasa malu dia mencium kening gue didepan umum, dan harus terulang lagi dicafe yang didatangin pengunjung.
“Ya udah, gak apa-apa” gue balik memeluk dan mencium kening jeni tanpa rasa segannya dan menahan tetesan air dimata gue.
“Oh ya sayang, kita kedepan aja lihat mantan sayang”kata-kata sayang kembali terucap dari bibir gue, seakan itu mungkin terakhir kali buat gue panggil dia sayang.
Gue pun berdiri, melepaskan pelukan yang begitu erat dari jeni, seakan memang gak ingin di lepaskan.
“Udah sayang, kita lihat mantan sayang ya” gue coba tegar dan dewasa disitu.
Jeni yang engan beranjak dari pelukannya ke gue hanya bisa diam, larut dengan kesedihannya. Mata yang dulu merona, bibir yang mungil meperlihatkan senyuman indah dan canda tawa seakan hilang malam ini. Sambil menahan kesedihan yang juga terasa di hidup gue, terus gue tetap mencoba bebicara dengan jeni.
“Kasihan dengan mantan dan mantan adik, kalau kita lama disini, sudah ya” ucap gue ke jeni, sedikit menenangkan diri jeni.
Jeni mulai melepaskan pelukan dari tubuh gue, berdiri mengikuti gue yang udah duluan ingin berdiri.
“Sekarang jangan sedih ya sayang bawel, kakak senang lihat sayang balikan lagi dengan matannya” gue coba beri senyuman sambil ucapkan kata itu.
Sedikitpun gak terlihat jawaban dari bibir jeni saat gue coba menghapus air matanya.
“Kita kedepan ya, jangan sedih, kalau sayang sedih itu bakal buat sedih  kakak juga”
Sambil berjalan menuju parkiran gue lihat raut wajah jeni disamping gue yang  hanya bisa menerima keadaan ini.  Melintasi setiap meja pengunjung yang memandangin. Sesampai gue kepakiran terlihat sosok ibu yang menunggu jeni di luar mobil, terlihat senyuman dari sang ibu menyambut kedatangan jeni. Gue yang berkenalan dengan ibu dan juga berkenalan dengan mantan jeni yang terlihat begitu lemahnya di dalam mobil. Gue coba terus tegarkan diri ini seakan mengikhlaskan jeni meninggalkan diri gue.
Jeni yang terlihat masih terdiam saat masuk kedalam mobil dan terus meninggalkan pergi gue yang sendiri di cafe.  Membuat gue merasakan kesalahan besar saat itu, waktu yang dulunya pernah ada untuk jeni,  tersia-siakan untuk menjauhinya.
Gue kembali balik ke meja cafe, mencoba menenangin diri  yang entah mengapa merasa sakit di dalam dada, seperti silet yang menyayat hati. Begitu bodohnya gue berapa hari belakangan ini memikirkan bagaimana cara meninggalkan jeni. Sekarang setelah jeni yang meninggalkan gue sendiri dan kembali ke mantan kekasihnya, gue harus merasa sakit yang sangat dalam.
 Di cafe yang ditemanin rokok, minuman dan pengunjung yang kadang-kadang menoreh arah gue, membuat air mata ini semakin engan terjatuh. Kembali gue coba mengingat tentang jeni, saat pertama kali kenal, jeni yang menghampiri waktu ospek, melambaikan tangan kananya terus berlanjut dengan perhatian setelah ospek dan waktu gue ungkapkan rasa sayang kedia pertama kali dijembatan baru. Banyak kisah udah gue lalui dengan jeni berapa bulan belakang, menjadikan rasa kehilangan yang sangat-sangat berarti. Jeni yang hanya sebatas selingkuhan, mememberikan warna hidup di diri gue.
Serasa banget untuk mengehilangkan jeni dalam hidup gue, walau rasa yang gue punya dulu hanya sebatas penasaran dan suka sekarang malah menjadi cinta setelah jeni pergi.
Samakin malam gue terlarut dengan sendirian di cafe, hanya membuat terus berpikir tentang kebodohan. Sekilas gue perhatikan jam tangan, terihat pukul sebelas malam. Gue mulai beranjak, berjalan ke meja kasir untuk membayar pesananan. Kembali menuju kepakriran mengambil motor untuk pulang kekontrakan gue.
Di perjalan pulang kekontrkan, bayang-bayang jeni masih merasuk pikiran. Disaat gue ingin menghilangkan seseorang dari hidup, memang semudah pikiran gue untuk melakukannya, tapi tak semudah untuk dijalani. Awalnya gue yang ingin menjauh dari jeni, sekarang malah sebaliknya gue yang merasakan kehilangan sebenarnya.
Dua hari gue habiskan waktu untuk mengingat jeni selingkuhan gue yang udah kembali kepada kekasih lamanya dan  gue yang mulai setia dengan rita kekasih yang sekarang masih terus ada buat gue.
Memang terakhir buat gue bisa sedekat itu dengan jeni, walaupun nanti bakal sering ketemu jeni dikampus, gue hanya bisa menatap dia dari kejauhan. Tangisan dia untuk malam ini akan menjadi cerita gue, berapa tersedunya tangisan yang jatuh di matanya, juga senyuman yang hilang dari hidupnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar